mengubah 5 kebiasaan untuk Ramadan berkualitas

Ramadan adalah bulan kemuliaan, bulan pengampunan, bulan pendidikan, bulan penuh berkah. Karena bulan yang sungguh istimewa ini, tiap detik rasanya menjadi sangat berharga. Pahala amal ibadah dilipatgandakan, banyak waktu dikabulkan doa, amal sunah setara wajib, tubuh menjadi sehat, melatih disiplin, bulan diturunkannya kitab suci pedoman hidup manusia, dan lain-lain. Meski kita sadar bulan ini adalah bulan istimewa, aktivitas leha-leha, rebahan, mageran, dan semua penyakit malas lainnya masih menjangkit dalam diri kita. Alasannya? "Kan lagi puasa." Lapar, lelah, lemas, letih, lesu, lunglai, lulungu, dan lieur sudah sepaket menjadi kambing hitam. 

Waktu istirahat memang perlu, tapi tetap gunakan secukupnya. Waktu-waktu kosong yang lain tetap bisa kok digunakan untuk melakukan hal-hal bermanfaat dan tak memerlukan tenaga ekstra. Melakukan kegiatan positif ini juga sekaligus mengubah kebiasaan buruk atau gak buruk-buruk amat menjadi perlahan lebih berkualitas dan berfaedah.


Membaca Buku

Tidak dimungkiri, membaca beragam informasi dari media sosial (terutama dari Twitter) dapat menambah pengetahuan kita. Sebuah utas atau thread yang panjangnya bisa menyamakan panjang jalan tol (apalagi utas tentang cerita horor atau cerita pengalaman pribadi) tetap betah dibaca oleh kita. Belum lagi, komentar-komentar yang seru dan unik membuat kita semakin betah berlama-lama scroll timeline. Berita yang sedang hangat dibicarakan lebih cepat up to date untuk diikuti. Sayangnya, berlama-lama scroll media sosial justru membuat kita mudah terdistraksi dari satu topik ke topik lain. Emosi yang dihasilkan pun pada akhirnya cepat melompat: sekejap sedih, sebentar marah, lalu tiba-tiba tertawa. Hormon endorfin yang dihasilkan dari perasaan 'senang' secara praktis ini membuat otak menjadi kecanduan terus-menerus menatap layar gawai. Hal ini tentu membuat diri kita, disadari ataupun tidak, lebih mager untuk beraktivitas.

Lalu, apa bedanya dengan membaca buku? Membaca buku, sekalipun buku-buku fiksi, membuat kita lebih fokus dan konsentrasi. Kita diajak untuk berpikir analitik. Bahkan, membaca buku juga bisa sebagai hiburan dan penghilang penat, lho. Dengan memperbanyak membaca buku, perbendaharaaan kata yang kita miliki makin bertambah, pola pikir tersusun secara terstruktur dan logis. Makin banyak membaca buku, makin membantu kita juga dalam proses menulis.

Bagaimana dengan yang tidak suka baca buku? Pelan-pelan saja. Pilihlah buku yang ringan dan sesuai dengan topik kesukaanmu. Siapkan target dan waktu khusus untuk membaca setiap hari meski hanya satu halaman. Ikuti pula program-program membaca di bulan Ramadan. Dengan kita masuk komunitas atau program membaca, kita terlebih dahulu akan 'dipaksa' untuk dekat dengan buku, lama-lama menjadi mulai terbiasa, dan pada akhirnya jatuh suka. 


Mengikuti Kajian

Bagi sebagian orang, ikut kajian alias ikut dalam majelis ilmu agama dirasa membosankan, tidak cocok, sudah tahu, terlalu kolot, atau tidak butuh. Padahal, belajar ilmu agama termasuk fardhu 'ain karena wajib bagi setiap muslim. Gimana jadinya kita menjalankan syariat tapi bingung dengan aturan-aturannya? Misalnya, kita diwajibkan puasa. Tapi kita bingung berhenti makan sahur itu wajibnya saat imsak atau saat azan subuh? Atau kita sedang hamil dan tidak bisa ikut puasa. Lalu kita bingung membayar puasanya dengan qadha, fidyah, atau keduanya? 

Selain hal-hal tersebut, mengikuti kajian sesungguhnya juga proses dalam membersihkan hati. Iman kita naik dan turun. Kita juga sering khilaf dan lupa. Dengan mendengarkan kajian atau mengikuti majelis ilmu, kita dapat banyak pengingat. Tentu saja usaha mencari ilmu ini juga jalan untuk mendekatkan diri pada Allah dan sudah otomatis menjadi jalan menuju surga. Saat ini, beragam kajian online dan offline sudah banyak disediakan dan mudah untuk diakses. 


Berolahraga

Meski sedang berpuasa, berolahraga tetap perlu, lho. Pilihlah olahraga yang tidak membuatmu lebih cepat lapar dan haus. Kalapun kamu begitu mager untuk olahraga di luar, kamu bisa melakukannya di rumah, misalnya dengan senam, yoga, ataupun stretching. Olahraga yang sangat simple misalnya melakukan peregangan otot sambil berjemur diri saat pagi hari. Daripada tidur lagi setelah subuh, kan? 


Mencoba Resep Baru

Membeli jajanan favorit nan menggoda selera untuk berbuka puasa memang menyenangkan. Namun, pastikan agar tidak mengonsumsinya secara berlebihan. Mengonsumsi santapan manis atau pedas atau dingin secara berlebihan dan tidak diimbangi dengan makanan bergizi akan berdampak buruk pada kesehatanmu. Saat puasa, hawa nafsu untuk membeli makanan-minuman enak memang menjadi godaan tersendiri. Rasanya, semua ingin kita beli. Padahal, saat berbuka puasa, kita bisa lebih kenyang dan cukup dengan makanan-makanan bernutrisi. Nah, salah satu cara meminimalisasinya adalah dengan memasak sesuai selera kita. Mencoba resep baru pun bisa menjadi sebuah keasikan tersendiri. Hati dan tubuh senang, perut kenyang.


Memperbanyak Ibadah

Poin yang satu ini menjadi poin penting yang tetap harus selalu diingatkan. Saat kecil dulu, kegiatan kita di bulan Ramadan lebih terarah dan semangat menggebu-gebu karena banyak teman dan dalam pengawasan. Biasanya, saat beranjak besar, kita lebih disibukkan dengan urusan-urusan dunia. Semangat dalam memperbanyak ibadah perlahan mulai kendor karena sudah kelelahan dalam bekerja. Namun, setidaknya, memanfaatkan waktu sekali dalam setahun ini tetap perlu diusahakan. Jika biasanya tilawah sehari sehalaman, kita belajar dengan menambahnya menjadi dua halaman. Jika biasanya salat tidak khusyuk, kita usahakan untuk lebih khusyuk. Jika biasanya shalat di akhir waktu, kita biasakan salat di awal waktu. Sedikit demi sedikit dan kontinu adalah kuncinya.


Kegiatan-kegiatan ini dan tentunya kegiatan lain akan menjadi amal ibadah jika kita niatkan untuk ibadah dengan hati yang penuh keikhlasan semata karena Allah. Semoga kita bisa menjadi hamba Allah versi lebih baik dan makin baik ya. Aamiin

    

Related Posts