![]() |
| Buku 365 Hari Keliling Nusantara |
Apa yang biasanya paling dicari saat berkunjung ke sebuah kota baru di Indonesia (selain sesuatu yang kita tuju)? Saya sendiri biasanya penasaran pada dua tempat, yaitu museum dan perpustakaan. Bagi saya, dua tempat ini bisa menjadi sumber pengetahuan sedikit-banyak tentang kota tersebut, apalagi kalau kita hanya punya waktu sebentar saat berkunjung. Dengan dua tempat ini, kita bisa mendapatkan sedikit-banyak bayangan budaya dan kehidupan masyarakatnya, sejarahnya, hingga seberapa perhatiannya pemerintah terhadap pelestarian budaya dan literasi, hehehe.
Dengan jumlah 38 provinsi, Indonesia tentu memiliki ribuan suku dan budaya yang menarik untuk diketahui. Rasanya, akan sangat seru jika mendapatkan kesempatan berkeliling ke tiap-tiap provinsi dan menemukan indahnya ragam budaya yang kaya (aamiin ya Allah!). Jika belum berkesempatan mengunjunginya secara langsung, ada opsi lain yang jadi salah satu favorit saya untuk berkeliling dan mengenal budaya Indonesia, yaitu melalui buku. Buku apa? Salah satunya, buku 365 Hari Keliling Nusantara!
Buku ini sebenarnya tak sengaja saya beli alias bukan masuk dalam wish list, tapi lebih tepatnya, masuk dalam budget pembelian buku diskon yang biasa diadakan secara berkala oleh Gramedia. Dalam setiap event bazar ini, saya perlu pakai beberapa trik untuk menemukan harta karun yang kadang works kadang pula tidak, yaitu siapkan budget khusus di bulan tertentu, datang di hari-hari pertama pembukaan bazar, serta datang di weekdays dan jam sepi pengunjung. Harta karun ini juga tidak punya spesifikasi khusus, yang penting: harga asli mahal tapi bisa dibeli dengan diskon besar; buku lama atau langka dengan harga miring; buku dengan tema khusus yang sedang saya cari; dan random. Wkwkw. (Bazar buku malah bikin kita impulsif, jadinya paradoks HEHE).
Buku 365 Hari Keliling Nusantara saya temukan di tumpukan buku agak bawah, nyempil, dan satu-satunya. Harga aslinya 283 ribu (harga luar Pulau Jawa), tapi bisa saya beli dengan jauuuh di bawah itu (lupa, yang jelas di bawah 100 ribu). Full color, tebalnya 392 halaman, dan isinya sangat ringan dibaca, jelas terasa worth it dibeli.
Konsep 365 hari keliling Indonesia juga dibuat dalam daftar isi, yakni isi buku yang berupa cerita rakyat, informasi singkat sejarah atau budaya, serta lagu daerah, yang dibagi ke dalam satu tahun penuh. Misalnya, tanggal 1 sampai 8 Januari, kita diajak untuk mengenal Provinsi Aceh: hari pertama membaca cerita rakyat Mentiko Betuah, hari kedua mengenal lagu "Bungong Jeumpa", hari ketiga membaca legenda Treon Bak Tanoeh, hari keempat mengetahui asal-usul Tari Guel, hari kelima diajak bermain Lenggang Rotan dan Tipak Rege, dan seterusnya. Setiap hari kita diajak mengenal satu per satu daerah hingga sampai di Papua pada tanggal 31 Desember. Karena buku ini terbit tahun 2020, jumlah provinsinya tidak sampai 38.
Dengan konsep yang ringan, menarik, dan menyenangkan, tentu saja buku ini dipasarkan untuk anak-anak, dengan harapan orang tua ikut andil di dalamnya. Terlebih lagi, buku ini penuh dengan ilustrasi gambar lucu, bahkan komik!, yang mendukung visualisasi informasi teks sehingga lebih mudah dicerna oleh mereka.
Meski masuk dalam kategori buku anak, buku ini saya kira justru dibutuhkan oleh orang dewasa yang ingin mengenal lebih dalam ragam folklor berbagai daerah di Indonesia, apalagi yang sering merantau dan hidup nomaden; akan lebih menyenangkan mengetahui tentang daerah yang kita pijak, bukan?
Misalnya, saat saya tinggal di Provinsi Riau, menu ikan patin asam-pedas jadi salah satu yang terlaris di rumah makan karena hidangan ini adalah hidangan tradisional khas Melayu Riau. Siapa sangka, ternyata Riau punya Legenda Ikan Patin, yang ceritanya tentu saja tak masuk akal, tapi jadi cerita menarik sebelum tidur! Atau cerita rakyat Si Lancang, yang diambil dari frasa Lancang Kuning, sebuah nama kapal layar tradisional Melayu Riau yang menjadi simbol kebesaran, identitas, dan kekayaan maritim di sini. Nama ini juga sebagai julukan untuk Provinsi Riau ("Bumi Lancang Kuning") yang mencerminkan sejarah kejayaan kerajaan Melayu sebagai penguasa lautan. Saya jadi langsung membayangkan bagaimana masa kehidupan zaman kerajaan Melayu sedang berjaya, dan jadi menumbuhkan rasa penasaran untuk membaca buku yang berkaitan dengan itu (need recommendations).
Saya tidak banyak update tentang buku-buku anak, tapi semoga makin banyak buku yang mengenalkan anak-anak Indonesia pada folklor daerahnya, karena mengingat zaman sekarang, cerita-cerita rakyat mungkin sudah banyak hilang dari lisan para orang tua gen milenial agak ke sini, apalagi gen Z. Dulu saat kecil, sebelum tidur (sambil menginjak punggung (baca: memijat) ayah), saya selalu dibacakan cerita-cerita rakyat atau kisah para Nabi. Kini mungkin para orang tua muda masih mewariskan kebiasaan ini kepada anaknya, tetapi mungkin juga mengisi waktu malam hari dengan handphone di tangan masing-masing.
Masih adakah yang mengenalkan anaknya dengan bermain congklak, bola bekel, engklek, atau gobak sodor? Dulu, saat mengisi waktu luang di bulan Ramadan, congklak jadi permainan menyenangkan bersama mama. Melihat kuwuk biji congklak tertumpuk menggunung di lubang induk rasanya bahagia! Banget! Biasanya, mama "balas dendam" dengan memenangkan pertarungan bola bekel.
Bagaimana dengan pengetahuan anak-anak tentang berbagai macam lagu daerah, terutama daerahnya sendiri? Saya optimis para guru sekarang bahkan lebih canggih dalam mengenalkan suatu pengetahuan baru. Saya jadi teringat saat SD, dalam pelajaran Seni Budaya, ada masa mempelajari beberapa lagu wajib nasional dan lagu daerah, baik secara nyanyian ataupun musik (dengan recorder atau pianika). Bahkan, rasanya dulu terasa wajib memiliki buku kumpulan lagu wajib nasional dan kumpulan lagu daerah untuk menghafal partitur nada.
Pada akhirnya, folklor lisan, sebagian lisan, ataupun lisan menjadi harta berharga yang patut diwariskan pada anak, cucu, cicit, piut, dan turunan-turunan di bawahnya. Tak hanya ikut melestarikan budaya agar tak hilang ditelan zaman, juga sebagai salah satu media pendidikan nilai, karakter, hingga sumber pengetahuan sejarah dan sosial masyarakat pada masa dahulu.
Identitas lengkap buku bisa dibaca di sini.






0 Comments