review film Na Willa

Dua anggota keluarga saya, mama dan adik bungsu, selepas lebaran tiba-tiba melayangkan pernyataan yang sama: "Mau nonton film Na Willa!" Ini momen langka sekali karena selera tontonan mama dan adik sangat berbeda, apalagi mama bukan tipe orang yang senang main ke bioskop. Usut punya usut, mama tergiur dari ulasan temannya yang sudah menonton Na Willa bersama keluarga, sedangkan adik yang penasaran setelah melihat beragam marketing film Na Willa berseliweran di media sosial. Saya? Justru lebih banyak melihat ulasan film Tunggu Aku Sukses Nanti dan sempat hendak menonton ini. Akhirnya, kami memutuskan menonton film Na Willa bersama.

Kalau ditanya maukah lagi menonton ulang film Na Willa, saya akan jawab, "Mau banget!" dan pasti dengan membawa tisu (lagi!). Film yang indah, menyenangkan, dan menghangatkan hati ini berhasil membuat kami bertiga beberapa kali menangis. Ada banyak momen haru yang bikin hati menghangat, apalagi didukung dengan akting Luisa Adreena sebagai Na Willa dan Irma Rihi (Irma Novita) sebagai Mak, yang merepresentasikan ikatan ibu-anak yang "ideal". 

sumber: @Andriandhy

Na Willa
 hadir sebelumnya dalam bentuk buku yang ditulis oleh Ibu Reda, dengan cerita kisah penulis sendiri berlatar waktu tahun 60-an di Krembangan, Surabaya. Buku Na Willa disebut masuk dalam rekomendasi buku sastra anak yang tidak hanya bagus dibaca oleh anak-anak, tetapi juga bagus sebagai buku healing bagi orang dewasa. Karena saya belum pernah membaca bukunya, saya tidak bisa menilai apakah adaptasi dari buku menjadi film ini sudah sukses ataukah belum, tetapi sukses menarik rasa penasaran saya sebagai penonton untuk mau membeli dan membaca bukunya.  

Berkisah tentang kehidupan sehari-hari Na Willa saat masih kecil sekitar usia 5-6 tahun, film ini menyoroti kehidupan anak yang polos, jujur, dan penuh rasa ingin tahu. Dengan tagline "Melihat dunia dari sudut pandang anak-anak lewat rasa ingin tahu, imajinasi, dan keajaiban #BahagiaBarengNaWilla", Visinema berhasil memvisualisasikannya dengan detail-detail yang terasa hidup dan layak diapresiasi. 


Kehidupan dan Sudut Pandang Anak

Na Willa bersama teman dan keluarga (klik untuk memperjelas)

Tim produksi berusaha untuk menempatkan Na Willa sebagai karakter utama dengan tetap menonjolkan karakter lainnya yang kuat (seperti Mak). Kita diajak untuk mengenali dan memahami dunia Na Willa, tapi pada sisi yang sama, kita melihat proses pengembangan karakter Mak. Tidak heran jika ada yang menyebut bahwa Mak-lah sebenarnya tokoh utama karena simbol ulat yang dihadirkan dari awal hingga akhir cerita justru lebih merepresentasikan pengembangan karakter Mak
dari yang asalnya ulat (diam di tempat, mengalami beberapa kesalahan kecil), berubah menjadi kepompong (dengan segala dinamika masalah Mak dan Na Willa), hingga menjadi kupu-kupu (Mak berhasil membuka pandangan baru dan mengizinkan anaknya tumbuh di dunia luar). Namun, bagi saya, simbol ulat ini juga merepresentasikan pengembangan diri Na Willa yang berhasil membuat kita ikut bertualang dan belajar.

Seperti judulnya, film ini menciptakan dunia Na Willa dengan beragam imajinasi yang lucu dan kreatif! Jujur, saya sendiri ikut gemes lucu dan bahagia saat menontonnya. Adanya sedikit penampilan musikal dengan properti dadakan yang muncul, buku-buku berpindah teratur di rak, kertas origami beragam jenis beterbangan, beberapa part pembatas cerita, makanan tradisional yang disajikan rapi, semuanya benar-benar dibuat ciamik dan disusun dengan penuh perhatian, tapi juga tidak berlebihan. Salut. 

Karena point of view Na Willa, jangan heran kalau guru galak nyebelin itu terlihat sangat dramatis karena bayangan dan ingatan anak-anak bisa jadi persis seperti itu! (meski menurut orang dewasa, pada kenyataannya biasa saja atau tergolong wajarpadahal nggak).

imajinasi dan scene lucu Na Willa

Rasa ingin tahu yang tinggi dan beragamnya ide (yang banyak dianggap nakal oleh orang dewasa) juga sangat disorot, seperti saat ia mencari Lilis Suryani dalam radio; lontaran pertanyaan asbun, "Emang kalau mau kawin (baca: nikah) harus nangis dulu ya?"; celetukan ingin main di rumah sakit; mengambil kain putih untuk mukena; atau menyimpan nasi dan lauk-pauk di kandang ayam. 

Hal detail lain yang bahkan dikomentari mama saya adalah sensorik Na Willa dan temannya yang aktif!  Sama seperti kita saat kecil, Na Willa juga terlihat sering memainkan segala hal yang ada di pasar (kacang hijau misalnya) atau menyentuh semua barang yang membuatnya penasaran. Saat makanan tradisional terhidang, ada momen ia menyentuh satu per satu karena penasaran dengan tekstur makanan tersebut. Atau saat ia melihat ayam kuning kecil sekali yang dijual di pasar, Willa juga sempat menyentuh ayam tersebut. 

Hal menarik lainnya, saat saya scrolling tentang film ini, ada yang ngeuh tentang perbedaan tinggi Na Willa dengan patokan meja makan (dari akun @/kochougiyu di X) yang langsung direspons oleh sang sutradara sebagai ikhtiar mereka dalam memberi kita gambaran dua POV: anak dan orang dewasa, "Bukankah saat kita kecil, semua tampak dan terasa lebih besar dari realitanya?"

perbedaan tinggi Na Willa bergantung POV


Identitas Diri

Karena latar waktunya tahun 60-an, properti, kostum, dan semuanya disesuaikan dengan masa tersebut. Semua disiapkan dengan baik sehingga setting waktu terlihat believable. Senang sekali rasanya melihat outfit Mak gaya retro vintage dan baju Willa yang cerah ceria, sepeda ontel dan becak yang berlalu-lalang, serta makanan-makanan zaman dulu yang sungguh sangat menggugah selera! 

aneka makanan di film Na Willa

Saya jadi ingat dengan tontonan saya (drakor, varshow Korea) yang bikin saya hafal beberapa nama makanan karena cara mereka menampilkan proses memasak, penyajian, hingga momen saat dimakan terasa begitu hidup dan menggugah lewat visual tone yang lembut. Saya akhirnya merasakan pengalaman ini di film Na Willa. Aneka makanan tradisional disajikan warna-warni dengan visual yang nyaman di mata, hingga membuat saya ngiler dan hanyut bernostalgia. Menariknya, warna-warni yang hangat ini terasa tidak berlebihan karena Ryan sebagai sutradara tampak sangat memperhatikan keseimbangan kontras dan value sehingga visualnya tetap lembut dan tidak melelahkan untuk dilihat.

cuitan sutradara tentang color grading (klik untuk memperjelas)

Selain camilan tradisional, makanan yang juga membuat saya bernostalgia adalah ikan pindang! Kalau ditanya lauk-pauk paling berkesan saat kecil dan saat ini jarang saya konsumsi, ikan pindang adalah jawabannya (tapi saya gak suka bagian matanya). Saya juga baru ingat kalau ikan pindang adalah olahan khas Nusantara yang dibuat melalui proses penggaraman dan pemanasan. Hal-hal seperti inilah yang menurut saya menjadi istimewa di film ini karena juga secara tidak langsung mengenalkan identitas pangan Indonesia yang semoga tak hilang ditelan zaman. 


Isu Sosial dan Budaya

Ada beberapa isu yang dimasukkan dalam film secara halus, menggelitik, dan getir. Misalnya, isu toleransi antarumat beragama, pernikahan dini, hingga rasisme karena Willa punya wajah cindo (bahkan dipanggil dengan sebutan *su cino).

Selain itu, ada satu bagian yang rasanya ingin saya ulang, yaitu percakapan Na Willa dan Mak tentang pernikahan. Mau menikah harus menangis? Ingin menikah seperti kakaknya Farida, tapi ingin main. Ingin main dan sekolah agar tidak menikah. Dan semacamnya. Saya lupa percakapan jelasnya bagaimana, tapi bagi saya, ini juga sebuah bentuk kritik dan kritis. 

Satu isu lagi yang juga sangat menonjol di film ini adalah isu perbedaan antara sekolah negeri dan swasta yang terlihat sangat kontras (ternyata dari dulu hingga sekarang belum banyak berubah, ya). Beragam isu di film ini rasanya benar-benar menyentil semua kalangan. 


Parenting Mak dan Pak

keluarga Na Willa

Satu hal yang salut dari film ini (juga salut pada Mak dan Paknya Ibu Reda) adalah meskipun seorang anak 
jarang merasakan kehadiran seorang ayah, ia tetap tumbuh dengan penuh cinta dan perhatian. Walaupun Pak harus pergi melaut, hubungan mereka tetap terasa dekat. Bahkan, di zaman ketika komunikasi hanya lewat surat, parenting Mak dan Pak tetap selaras. 

Saya suka gaya komunikasi dan tektokan Mak dan Pak tentang penyelesaian masalah yang dialami di rumah. Saya juga senang melihat figur Pak yang tetap hadir mendengarkan, memberi nasihat, dan memimpin walaupun dari jauh. Saya suka pola parenting Mak yang tegas, tapi juga lembut kepada anaknya. Analogi tentang kejujuran yang banyak dibahas di film ini juga menjadi reminder bagi saya dan berkesan dalam ingatan.

Keluarga yang tampak ideal ini juga didukung oleh kehadiran Mbok yang membantu urusan rumah tangga sehingga Mak punya banyak waktu untuk mengajari Na Willa membaca dan menulis, menjalani hobi menjahit, dan hadir di beragam lini kehidupan Na Willa. Jangan lupa, Pak adalah pelaut yang gajinya tentu bisa membuat Mak leluasa melakukan ini dan itu. Hehehe. 

Mbok versi buku dan film


Saya begitu kagum pada akting para pemain, terutama yang memainkan karakter Na Willa, karena sungguh bisa bermain dengan natural, lucu, dan cerdas! Kalau melihat behind the scene-nya, Luisa Adreena tampak begitu luwes memainkan peran, bahkan sang sutradara, Ryan Adriandhy, mengaku bahwa sang aktris cilik ini tampil melebihi ekspektasi dia. Disebabkan hal itu juga, film ini saya sebut magis bin ajaib karena memengaruhi saya yang tidak pernah lagi terpikirkan tentang pernikahan, tiba-tiba bergumam, "Lucu banget Na Willa. Lucu ya kayaknya punya keluarga kecil dan anak gemes begitu." Huehehehehehehehehehehehe. Curiga tim marketing film kerja sama juga dengan KUA. 

Jadi, apakah film ini rekomendasi untuk ditonton oleh para orang tua? Sangat dianjurkan banget! Apakah film ini rekomendasi untuk ditonton oleh anak-anak? Boleh sekalian dibawa. 

Saya justru merasa orang tua menjadi penonton prioritas yang wajib menonton film ini karena ada banyak hal yang bisa diambil sebagai pelajaran, pengetahuan, dan refleksi pengalaman. Kalau anak-anak? Mungkin pengalaman menontonnya akan berbeda. Saat di bioskop tadi, rombongan anak-anak (bersama salah satu bapak) keluar lebih dulu saat filmnya masih berjalan (entah karena ada urgensi tertentu, entah karena bosan). Anak yang di depan saya pun (masih terhitung kecil) di akhir-akhir terlihat sudah tidak fokus. Saya merasa di bagian menjelang akhir sedikit membosankan (entah kelamaan) bagi kacamata anak-anak. Entah mungkin karena "hanya" berkisar kehidupan sehari-hari (padahal gak hanya), atau karena bukan berupa petualangan seru seperti film Jumbo dan Petualangan Sherina. Untuk yang ini, saya masih mencari ulasan dari penonton yang lain. 

Namun, yang terpenting, secara pribadi, film bergenre slice of life ini terasa seperti terapi yang menghangatkan hati. 

kamar Na Willa yang dibuat hidup dan hangat

kamar Na Willa

rumah Na Willa

Jangan lupa nonton Na Willa selagi di bioskop masih ada!  #bukanbuzzer #bukanendorse



Related Posts